Jumlah Kota di Pulau Sumatera

Bahasa Daerah di Indonesia yang Terancam Punah

Surabaya, 7 Agustus 2026
Pernahkah kamu duduk dekat nenek atau kakek saat mereka berbicara dengan bahasa daerah, lalu sadar bahwa kamu dan adik-adikmu sudah tidak benar-benar paham artinya?
Adegan sederhana itu ternyata adalah tanda dari sesuatu yang lebih besar. Tanpa kita sadari, banyak bahasa daerah di Indonesia yang terancam punah, perlahan meredup bersama menuanya para penutur.
Ilustrasi nenek berbincang dengan cucu, menggambarkan bahasa daerah di Indonesia yang terancam punah
Ketika sebuah bahasa tidak lagi diwariskan di rumah, ia perlahan meredup bersama penuturnya.

Berapa Banyak Bahasa Daerah di Indonesia?

Indonesia adalah salah satu negara dengan jumlah bahasa terbanyak di dunia. Berdasarkan pemetaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, terdapat ratusan bahasa daerah, dari Aceh sampai Papua.
Masalahnya, tidak semua bahasa itu sehat. Sebagian masih dituturkan puluhan ribu orang, tetapi sebagian lain hanya tersisa puluhan penutur, dan kebanyakan berusia lanjut. Ketika sebuah bahasa tidak lagi diucapkan anak-anak, hitungan mundurnya sudah dimulai.

Mengapa Bahasa Daerah Bisa Terancam Punah?

Bahasa jarang “mati” mendadak. Ia biasanya melemah pelan-pelan, dan hampir selalu berawal dari rumah.
Beberapa penyebab utamanya:
  1. Tidak lagi diwariskan di rumah. Banyak orang tua memilih berbahasa Indonesia agar anak “lebih siap” sekolah dan bekerja.
  2. Merantau dan pernikahan antarsuku. Dalam keluarga campuran, bahasa Indonesia menjadi jalan tengah.
  3. Media dan konten digital lebih banyak memakai bahasa Indonesia dan bahasa asing.
  4. Stigma. Sebagian anak muda merasa bahasa daerah ketinggalan zaman.
Akibatnya, rantai pewarisan terputus. Dan bahasa yang tidak punya penutur muda, tidak punya masa depan.

Kehilangan Bahasa, Kehilangan Budaya

Bahasa daerah bukan sekadar alat bicara. Di dalamnya tersimpan:
  • pengetahuan lokal tentang alam, tanaman, dan obat tradisional,
  • tata krama dan nilai hidup masyarakat,
  • dongeng, tembang, dan doa-doa leluhur,
  • cara unik memandang dunia.
Karena itu para linguis sering bilang: kehilangan satu bahasa sama seperti kehilangan perpustakaan yang tidak pernah sempat difotokopi. Sekali hilang, tidak ada salinannya.

Apakah Masih Ada Harapan?

Masih. Upaya pelestarian terus berjalan:
  • Muatan lokal bahasa daerah diajarkan di sekolah di berbagai wilayah.
  • Program revitalisasi dan dokumentasi dilakukan Badan Bahasa, perguruan tinggi, dan komunitas.
  • Kreator konten mulai membawa bahasa daerah ke musik, video, dan media sosial.
Namun upaya paling menentukan justru yang paling sederhana: bahasa yang tetap hidup di rumah.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Kamu tidak perlu menjadi linguis untuk ikut menjaga.
  • Sapa anak-anak dengan bahasa daerah, meski hanya beberapa kata sehari.
  • Rekam cerita, lagu, dan petuah kakek-nenek sebelum terlambat.
  • Bangga memakainya di caption, video, atau konten media sosial.
Bahasa hidup selama ia dipakai. Sesederhana itu.

Penutup

Bahasa daerah di Indonesia yang terancam punah bukan sekadar angka dalam laporan penelitian. Ia adalah suara nenek kita, tembang pengantar tidur, dan bagian dari identitas kita sebagai bangsa.
Jika masih ada penutur di sekitarmu, dengarkan dan rekam. Jika masih sempat belajar, mulailah hari ini. Karena ketika sebuah bahasa benar-benar sunyi, sangat sulit menghadirkan kembali suaranya.