Mengapa Bahasa Indonesia Berakar dari Melayu, Bukan Jawa?

Pernahkah Anda berhenti sebentar dan bertanya-tanya: kalau dihitung dari jumlah penuturnya, bahasa Jawa sebenarnya adalah bahasa daerah terbesar di Indonesia—penuturnya puluhan juta orang. Secara logika, kalau ada satu bahasa yang "paling layak" jadi bahasa nasional, kandidat terkuatnya seharusnya bahasa Jawa.
Ilustrasi pelabuhan Nusantara kuno: pedagang berbagai suku berbincang dan bertukar rempah dengan bahasa Melayu
Bahasa Melayu: lingua franca yang mempersatukan pelabuhan Nusantara
Tetapi sejarah memilih jalan lain. Bahasa yang kini mempersatukan kita dari Sabang sampai Merauke justru berakar dari bahasa Melayu. Kenapa begitu? Ternyata, cerita tentang asal bahasa Indonesia ini jauh lebih menarik daripada sekadar soal angka.

Bahasa Melayu, Si Bahasa Pasar yang Jalan-Jalan

Jauh sebelum nama "Indonesia" ada, bahasa Melayu sudah berkelana dari pelabuhan ke pelabuhan. Prasasti-prasasti dari masa Sriwijaya, seperti Prasasti Kedukan Bukit (683 M), menunjukkan bahwa Melayu Kuno telah dipakai sebagai bahasa penghubung di Nusantara lebih dari 1.300 tahun lalu.
Di pasar dan bandar yang ramai, penjual dan pembeli datang dari suku yang berbeda-beda. Mereka butuh bahasa bersama yang tidak menuntut status tinggi atau tata krama yang rumit. Melayu menjawab kebutuhan itu. Karena sebagian besar penuturnya memakainya sebagai bahasa kedua, Melayu tumbuh menjadi bahasa yang lentur, terbuka, dan relatif mudah dipelajari.
Dengan kata lain, Melayu tidak dipaksakan dari atas. Ia dipilih dari bawah, oleh orang banyak, selama berabad-abad.

Masalah "Undak-Usuk": Kenapa Bahasa Jawa Sulit Jadi Bahasa Pemersatu

Nah, kenapa bukan bahasa Jawa? Jawabannya justru terletak pada kekayaan bahasa itu sendiri: bahasa Jawa memiliki tingkatan tutur. Ada ngoko untuk sesama atau yang lebih rendah, madya, dan krama dengan kosakata kehormatan untuk yang dihormati. Salah memilih tingkat tutur, seseorang bisa dianggap tidak sopan.
Bagi orang dari suku lain, belajar bahasa Jawa bukan hanya soal menghafal kosakata, tetapi juga belajar hierarki sosial. Padahal, bahasa nasional yang lahir dari hierarki akan sulit terasa sebagai rumah bersama.
Ada pula pertimbangan perasaan. Memilih bahasa suku terbesar bisa dibaca sebagai bentuk dominasi, dan berpotensi memicu kecemburuan suku-suku lain. Uniknya, para pemuda Jawa kala itu tidak memaksakan bahasa mereka. Mereka ikut memilih "kita" yang lebih besar.
Ilustrasi pemuda-pemudi 1928 mengangkat kepalan tangan saat Sumpah Pemuda di gedung bergaya kolonial
28 Oktober 1928: para pemuda dari berbagai suku sepakat menjunjung satu bahasa persatuan. Bukan bahasa suku terbesar, melainkan bahasa yang membuat semua orang merasa setara.

Sumpah Pemuda 1928: Kesepakatan yang Mengubah Sejarah

Semuanya dikukuhkan pada 28 Oktober 1928. Dalam Kongres Pemuda II, para pemuda mengucapkan Sumpah Pemuda, dan butir ketiganya berbunyi: menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Perhatikan: mereka tidak menyebut "bahasa Melayu", melainkan "bahasa Indonesia". Namanya baru, sebagai simbol bangsa yang sedang lahir, tetapi bahannya adalah Melayu yang sudah berabad-abad beredar di Nusantara. Ini kompromi yang elegan—bahasa lama diberi nama baru dan tugas baru.

Lalu, Apa yang Terjadi Selanjutnya?

Sejak saat itu, bahasa Indonesia tumbuh sangat cepat. Ia menjadi bahasa surat kabar, bahasa pergerakan, bahasa administrasi, dan setelah merdeka pada 1945, bahasa pendidikan serta bahasa negara.
Sesuai wataknya sebagai bahasa yang terbuka, bahasa Indonesia menyerap kosakata dari bahasa Jawa, Sunda, Minang, juga dari Sanskerta, Arab, Belanda, Portugis, Tionghoa, dan Inggris. Bahasa Jawa yang "tidak terpilih" sebagai dasar justru mengalir deras di dalamnya—lewat kata-kata seperti batik, wayang, gamelan, bupati, hingga mumpung.

Pelajaran Kecil dari Keputusan Besar

Kalau dilihat kembali, pilihan menjadikan Melayu sebagai akar bahasa Indonesia bukanlah keputusan matematis, melainkan keputusan tentang rasa. Para pendiri bangsa tidak bertanya "bahasa siapa yang paling besar?", tetapi "bahasa mana yang bisa membuat semua orang merasa sama derajat?"
Dan mungkin karena itulah, sampai hari ini, bahasa Indonesia terasa seperti rumah yang bisa dimasuki siapa saja—tanpa perlu mengetuk pintu terlebih dahulu.

FAQ

Apakah bahasa Indonesia sama dengan bahasa Malaysia? Akar keduanya sama, yaitu bahasa Melayu. Namun keduanya berkembang dalam konteks politik dan budaya yang berbeda, sehingga serapan dan nuansanya berbeda: bahasa Indonesia banyak menyerap dari bahasa Belanda dan bahasa daerah, sementara bahasa Malaysia lebih banyak menyerap dari bahasa Inggris.
Kapan istilah "bahasa Indonesia" pertama kali dipakai? Nama ini dipopulerkan oleh pergerakan nasional pada 1920-an dan dikukuhkan lewat Sumpah Pemuda 1928. Sebelumnya, bahasa ini lazim disebut bahasa Melayu.
Apakah bahasa Jawa jadi tidak penting karena tidak terpilih? Sama sekali tidak. Bahasa Jawa tetap menjadi bahasa daerah dengan penutur puluhan juta dan penyumbang kosakata serta budaya yang besar bagi bahasa Indonesia. Keduanya berjalan berdampingan, bukan bersaing.
------------- ---------