Jumlah Kota di Pulau Sumatera

Mengenal Sejarah dan Warisan Megah Kerajaan Banten

Jika mendengar kata "Banten", apa yang pertama kali terlintas di pikiran Anda? Mungkin kawasan industri di Cilegon, keindahan pantai Anyer, atau suku Baduy yang misterius. Namun, tahukah Anda bahwa berabad-abad yang lalu, Banten adalah salah satu pusat peradaban paling kosmopolitan dan menjadi rebutan kekuatan besar dunia?
Ya, sebelum menjadi sebuah provinsi, Banten adalah jantung dari Kesultanan Banten; sebuah kerajaan maritim yang menguasai perdagangan lada internasional pada abad ke-16 hingga ke-17. Mari kita putar waktu dan menelusuri jejak kejayaan, intrik, serta warisan megah dari Kerajaan Banten.

Awal Mula: Lahir dari Runtuhnya Pajajaran
Sejarah Banten tidak bisa dilepaskan dari ekspansi Kesultanan Demak di Pulau Jawa. Pada tahun 1526 (atau 1527), pasukan Demak yang dipimpin oleh Fatahillah (Sunan Gunung Jati) berhasil merebut pelabuhan Sunda Kelapa dari Kerajaan Pajajaran.
Setelah mengamankan Sunda Kelapa, Sunan Gunung Jati melanjutkan ekspedisinya ke barat dan menaklukkan Banten Girang, pusat Kerajaan Pajajaran. Sunan Gunung Jati kemudian meninggalkan putranya, Maulana Hasanuddin, untuk memimpin wilayah tersebut. Di sinilah cikal bakal Kesultanan Banten berdiri, dengan Maulana Hasanuddin sebagai Sultan pertamanya.

Masa Keemasan: Ketika Banten adalah "Pusat Dunia"

Kesultanan Banten mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (1651–1682). Di bawah kepemimpinannya, Banten bukan sekadar kerajaan lokal, melainkan pemain utama dalam jaringan perdagangan global.
Pelabuhan Karangantu menjadi salah satu pelabuhan tersibuk di Asia Tenggara. Kapal-kapal dari Tiongkok, India, Arab, Inggris, Denmark, hingga Ottoman berlabuh untuk membeli lada dan rempah-rempah.
Yang paling menakjubkan dari Banten pada era ini adalah sifatnya yang kosmopolitan dan toleran. Masyarakat Banten sangat terbuka. Orang-orang asing dari berbagai bangsa diizinkan tinggal, berdagang, bahkan menjalankan ibadah sesuai agama mereka. Sultan Ageng Tirtayasa bahkan dikenal sangat anti-monopoli; ia dengan berani menentang VOC (Belanda) yang ingin memaksakan kehendak di Batavia (Jakarta), dengan cara membuka jalur perdagangan bebas dan memperkuat armada laut Banten.

Keruntuhan: Tragedi "Devide et Impera"

Sayangnya, kejayaan Banten tidak bertahan selamanya. Runtuhnya kerajaan ini tidak semata-mata karena kekuatan militer VOC, melainkan dipicu oleh konflik internal keluarga istana.
Konflik pecah antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan putranya sendiri, Sultan Haji Abdul Qahar. Merasa terdesak, Sultan Haji melakukan langkah fatal: ia meminta bantuan militer kepada VOC.
VOC yang memang selalu mengincar monopoli perdagangan dengan senang hati membantu. Sebagai "bayaran" atas bantuan tersebut, Sultan Haji harus menandatangani perjanjian yang memberikan hak monopoli perdagangan lada kepada VOC. Meskipun Sultan Ageng Tirtayasa akhirnya tertangkap dan wafat dalam tahanan, kemenangan Sultan Haji adalah awal dari hilangnya kedaulatan Banten. VOC perlahan mengontrol istana, dan Banten pun kehilangan kejayaannya sebagai pelabuhan internasional yang bebas.

Warisan Megah yang Masih Bisa Disaksikan Hari Ini

Meski kerajaannya telah lama runtuh, jiwa dan keagungan Kesultanan Banten masih sangat terasa hingga hari ini. Jika Anda berkunjung ke Kabupaten Serang, Banten Lama adalah destinasi wajib yang menawarkan "mesin waktu" untuk melihat masa lalu.
Berikut adalah peninggalan yang masih berdiri kokoh:
  1. Masjid Agung Banten: Ikon paling terkenal dari kesultanan ini. Masjid ini memiliki arsitektur yang unik, memadukan gaya lokal, Hindu (atap tumpang bersusun), dan Eropa. Tiang-tiang masjid yang megah bahkan dirancang oleh arsitek Belanda bernama Hendrik Lucasz. Di kompleks ini juga terdapat makam para Sultan.
  2. Keraton Surosowan: Istana tempat para Sultan memerintah. Meski kini tinggal reruntuhan, Anda masih bisa melihat bekas tembok keliling, kolam pemandian raja, dan tata letak istana yang menghadap langsung ke Laut Jawa.
  3. Keraton Kaibon: Istana yang dibangun untuk permaisuri Sultan (Ibu Sultan). Nama "Kaibon" berasal dari kata Kai (Ibu) dan Ibon (tempat tinggal).
  4. Benteng Speelwijk: Benteng pertahanan yang dibangun oleh VOC di area Banten Lama untuk mengawasi dan mengontrol Kesultanan Banten dari dalam.
  5. Museum Purbakala Banten: Tempat penyimpanan berbagai artefak, keramik kuno dari Tiongkok, dan meriam-meriam peninggalan masa kejayaan Banten.

Belajar dari Sejarah Banten

Menelusuri sejarah Kerajaan Banten memberikan kita pelajaran yang sangat relevan hingga hari ini. Dari masa Sultan Ageng Tirtayasa, kita belajar tentang pentingnya keterbukaan, toleransi, dan keberanian untuk bersaing di kancah global. Namun, dari masa keruntuhannya, kita diingatkan bahwa ancaman terbesar bagi sebuah bangsa atau kerajaan seringkali bukan datang dari musuh di luar, melainkan dari perpecahan di dalam.
Banten Lama bukan sekadar tumpukan batu dan reruntuhan. Ia adalah monumen bisu yang menceritakan kisah ambisi, kejayaan, pengkhianatan, dan ketahanan.

Oleh: Ruana Sagita