Sejarah Nusantara mencatat banyak tokoh dengan kisah tragis, namun sedikit yang seberdarah dan sepenuh konflik seperti Tohjaya. Raja ketiga Singhasari yang hanya berkuasa beberapa bulan ini meninggalkan jejak kelam dalam silsilah Raja-raja Jawa abad ke-13. Berikut fakta-fakta menarik tentang sosok yang hidupnya diwarnai intrik dan kekerasan ini.
1. Darah Ken Arok yang Mengalir Deras
Tohjaya adalah putra sulung Ken Arok, pendiri Kerajaan Singhasari yang legendaris. Namun, ia lahir dari Ken Umang, bukan dari Ken Dedes yang merupakan permaisuri utama. Posisi ini menempatkannya dalam situasi yang rumit—secara teknis ia adalah putra tertua, namun tidak memiliki hak prioritas atas takhta karena bukan putra permaisuri utama.
Konflik saudara yang diwariskan Ken Arok ternyata terus berlanjut melalui anak-anaknya. Tohjaya mewarisi bukan hanya ambisi ayahnya, tetapi juga dendam yang tak pernah padam.
2. Motivasi Utama: Balas Dendam untuk Ayah
Kematian Ken Arok yang dibunuh oleh Anusapati (kakak tiri Tohjaya) menjadi titik balik kehidupan sang pangeran muda. Tohjaya tumbuh dengan satu obsesi: membalaskan kematian ayahnya.
Yang menarik, Tohjaya tidak gegabah. Ia menunggu dengan sabar, mengamati kelemahan Anusapati, dan merencanakan pembalasannya dengan matang. Ini menunjukkan bahwa ia adalah sosok yang kalkulatif dan tidak emosional dalam bertindak.
3. Strategi Licik di Arena Sabung Ayam
Tohjaya mengetahui bahwa Anusapati memiliki kegemaran luar biasa pada sabung ayam. Dengan cerdik, ia memanfaatkan momen ini untuk eksekusi rencana balas dendamnya.
Dalam sebuah pertemuan yang tampaknya bersahabat untuk menonton sabung ayam, Tohjaya menusuk Anusapati dengan keris Mpu Gandring—keris yang sama yang dulu digunakan untuk membunuh Ken Arok. Ironisnya, siklus kekerasan yang dimulai dengan keris ini terus berlanjut dan akhirnya menelan Tohjaya sendiri.
4. Masa Pemerintahan Terpendek dalam Sejarah Singhasari
Setelah menyingkirkan Anusapati pada tahun 1248-1249, Tohjaya naik takhta. Namun, pemerintahannya sangat singkat—hanya bertahan beberapa bulan hingga setahun. Ini menjadikannya salah satu raja dengan masa pemerintahan terpendek dalam sejarah kerajaan-kerajaan Jawa.
Masa kekuasaannya diwarnai kecurigaan dan ketidakstabilan politik. Tohjaya sadar bahwa posisinya lemah karena ia merebut takhta dengan cara yang tidak legitim di mata banyak pihak.
5. Kontroversi Historis: Raja Singhasari atau Kediri?
Salah satu misteri menarik tentang Tohjaya adalah perbedaan catatan sejarah:
- Pararaton menyebutnya sebagai raja Tumapel/Singhasari
- Nagarakretagama hampir tidak menyebut namanya sama sekali
- Prasasti Mula Malurung (1255) justru menyebutnya sebagai raja Kediri, bukan Tumapel
Perbedaan ini menunjukkan kompleksitas sejarah dan bagaimana sumber yang berbeda dapat memberikan versi yang berbeda pula. Prasasti Mula Malurung yang dikeluarkan Kertanagara dianggap sebagai sumber yang lebih kredibel karena dibuat lebih dekat secara temporal dengan peristiwa yang diceritakan.
6. Ketakutan yang Menghantui
Sebagai raja, Tohjaya hidup dalam paranoia. Ia khawatir akan digulingkan oleh keturunan Anusapati atau Mahisa Wonga Teleng (saudara Anusapati). Atas hasutan penasihatnya, Pranaraja, Tohjaya berencana membunuh Ranggawuni (putra Anusapati) dan Mahisa Campaka (putra Mahisa Wonga Teleng).
Namun, rencananya bocor. Yang seharusnya menjadi algojo, Lembu Ampal, justru berbalik mendukung kedua pangeran muda tersebut. Ini membuktikan bahwa ketakutan Tohjaya memang beralasan, namun upayanya untuk mencegah justru mempercepat kejatuhannya.
6. Pemberontakan dan Pelarian
Ranggawuni dan Mahisa Campaka, dengan dukungan Lembu Ampal dan pasukan istana, melancarkan pemberontakan. Dalam pertempuran di istana Tumapel, Tohjaya tertusuk tombak namun berhasil melarikan diri.
Ia melarikan diri ke arah barat, menuju Desa Katang Lumbang (sekarang wilayah Lumbang, Pasuruan). Namun, lukanya terlalu parah. Di desa inilah sang raja mengakhiri hidupnya sekitar tahun 1250.
7. Akhir yang Tragis di Katang Lumbang
Kematian Tohjaya di Desa Katang Lumbang menandai berakhirnya bab gelap dalam sejarah Singhasari. Dengan kematiannya, Ranggawuni naik takhta dengan gelar Wisnuwardhana dan berhasil menstabilkan kerajaan.
Yang menarik, Wisnuwardhana kemudian mempersatukan kembali Singhasari dan Kediri yang sebelumnya terpecah, menciptakan fondasi bagi kejayaan Singhasari di masa Kertanagara.
8. Bagian dari Kutukan Keris Mpu Gandring
Kisah Tohjaya tidak dapat dipisahkan dari legenda keris Mpu Gandring. Keris ini menjadi simbol kutukan yang melanda dinasti Rajasa:
- Ken Arok menggunakan keris ini untuk membunuh Tunggul Ametung
- Keris yang sama digunakan untuk membunuh Ken Arok
- Tohjaya menggunakan keris ini untuk membunuh Anusapati
- Dan akhirnya, Tohjaya sendiri tewas dalam kekerasan
Siklus ini mencerminkan konsep karma dalam budaya Jawa—kekerasan akan melahirkan kekerasan.
9. Warisan yang Kompleks
Tohjaya meninggalkan warisan sejarah yang kompleks dan kontroversial:
Sisi Negatif:
- Pembunuh yang licik dan penuh perhitungan
- Raja yang paranoid dan tidak stabil
- Simbol dendam yang menghancurkan
Sisi Tragis:
- Korban dari sistem poligami kerajaan
- Produk dari lingkungan penuh intrik
- Sosok yang terjebak dalam siklus kekerasan yang diwariskan
10. Pelajaran untuk Generasi Modern
Kisah Tohjaya menawarkan beberapa pelajaran berharga:
Pertama, bahaya dendam yang dipelihara. Dendam Tohjaya kepada Anusapati akhirnya menghancurkannya sendiri.
Kedua, legitimasi kekuasaan tidak bisa direbut dengan kekerasan. Tohjaya mungkin berhasil merebut takhta, tetapi ia tidak pernah mendapat legitimasi penuh.
Ketiga, pentingnya pengampunan. Seandainya Tohjaya memilih jalan pengampunan, mungkin nasibnya akan berbeda.
Keempat, sejarah selalu multi-perspektif. Perbedaan catatan antara Pararaton, Nagarakretagama, dan prasasti mengajarkan kita untuk kritis dan tidak menerima satu versi saja.
11. Pengaruh terhadap Sejarah Nusantara
Meski pemerintahannya singkat, Tohjaya memiliki pengaruh tidak langsung terhadap sejarah Nusantara:
- Kematian Tohjaya memungkinkan Wisnuwardhana naik takhta dan mempersatukan kerajaan
- Stabilitas yang tercipta setelah kematiannya memungkinkan Singhasari berkembang
- Pada akhirnya, ini membuka jalan bagi Kertanagara dan kemudian Majapahit
12. Representasi dalam Budaya Populer
Kisah Tohjaya terus hidup dalam berbagai bentuk:
- Cerita rakyat Jawa Timur
- Pertunjukan wayang dan drama sejarah
- Literatur akademis tentang sejarah Nusantara
- Konten edukasi sejarah modern
Penutup: Tokoh yang Layak Dipelajari
Tohjaya bukan sekadar nama dalam daftar raja-raja Singhasari. Ia adalah representasi dari kompleksitas manusia—sosok yang dibentuk oleh lingkungannya, terjebak dalam konflik yang tidak ia ciptakan, namun memilih respons yang akhirnya menghancurkannya.
Kisah Tohjaya mengajarkan kita bahwa sejarah bukan hitam-putih. Ada nuansa abu-abu dalam setiap tokoh sejarah. Tohjaya adalah korban sekaligus pelaku, pahlawan bagi sebagian orang dan penjahat bagi yang lain.
Yang pasti, warisannya tetap hidup sebagai pengingat abadi tentang bahaya dendam, pentingnya legitimasi, dan siklus kekerasan yang hanya bisa diputus dengan pengampunan dan kebijaksanaan.
Referensi Utama:
- Pararaton (Kitab Raja-Raja)
- Nagarakretagama (Desawarnana)
- Prasasti Mula Malurung (1255)
- Penelitian historis modern tentang Singhasari