Jumlah Kota di Pulau Sumatera

Asal Mula Berdirinya Kota Pasuruan: Jejak Sejarah Kota Tua di Pesisir Jawa Timur

Sby, Rabu 8 Juli 2026 - Ruana Sagita

Kota Pasuruan, yang terletak di pesisir timur laut Pulau Jawa, Provinsi Jawa Timur, merupakan salah satu kota tua yang memiliki sejarah panjang dan kaya akan warisan budaya. Sebagai kota pelabuhan yang strategis, Pasuruan telah menjadi saksi bisu perjalanan peradaban dari masa kerajaan Hindu-Buddha, era penyebaran Islam, masa kolonial Belanda, hingga kemerdekaan Indonesia.
Artikel ini akan mengupas tuntas asal mula berdirinya Kota Pasuruan, mulai dari etimologi nama, perkembangan sebagai kota pelabuhan, pengaruh berbagai kebudayaan, hingga perannya dalam sejarah Nusantara.

1. Etimologi: Asal Usul Nama "Pasuruan"

Nama "Pasuruan" memiliki beberapa versi sejarah yang menarik untuk dikaji:

Versi Pertama: "Para Shuluh"

Menurut beberapa sumber sejarah, nama Pasuruan berasal dari kata "Para Shuluh" atau "Pasaruan" yang berarti "tempat para ulama" atau "tempat para dai". Hal ini berkaitan dengan peran Pasuruan sebagai pusat penyebaran Islam di Jawa Timur.

Versi Kedua: "Pasaruan"

Versi lain menyebutkan bahwa Pasuruan berasal dari kata "Pasaruan" yang berarti "tempat pasar" atau "kota perdagangan", mengacu pada aktivitas perdagangan yang ramai di kota ini sejak zaman kuno.

Versi Ketiga: "Pa-Suruhan"

Ada pula yang mengartikan Pasuruan dari "Pa-Suruhan" yang berarti "tempat yang diperintahkan" atau "wilayah yang ditunjuk", merujuk pada penetapan kota ini sebagai pusat pemerintahan atau perdagangan.

Catatan Sejarah:

Nama Pasuruan pertama kali tercatat dalam prasasti dan catatan kuno pada abad ke-17 Masehi, saat kota ini mulai berkembang di bawah Kesultanan Mataram.

2. Masa Awal: Pasuruan Sebagai Wilayah Kerajaan (Abad 10-15)

Era Kerajaan Hindu-Buddha

Sebelum Islam masuk, wilayah Pasuruan telah menjadi bagian dari berbagai kerajaan Hindu-Buddha di Jawa Timur:
Kerajaan-Kerajaan Penting:
A. Kerajaan Medang (Mataram Kuno)
  • Abad ke-10 hingga 11 M
  • Pasuruan menjadi wilayah kekuasaan Medang
  • Pengaruh budaya Hindu-Buddha kuat
B. Kerajaan Kediri
  • Abad ke-11 hingga 13 M
  • Pasuruan menjadi bagian dari wilayah Kediri
  • Perdagangan mulai berkembang
C. Kerajaan Singasari
  • Abad ke-13 M
  • Dibangun oleh Ken Arok
  • Pasuruan menjadi wilayah penting
D. Kerajaan Majapahit
  • Abad ke-13 hingga 15 M
  • Masa kejayaan kerajaan Hindu-Buddha terbesar di Nusantara
  • Pasuruan menjadi pelabuhan penting untuk perdagangan

Peninggalan Hindu-Buddha:

Candi dan Situs:
  • Candi Bangkal di Mojokerto (dekat Pasuruan)
  • Candi Jawi di Pandaan
  • Candi Jago di Tumpang, Malang
  • Prasasti-prasasti kuno
Bukti Arkeologis:
  • Arca-arca Hindu-Buddha
  • Prasasti batu
  • Struktur candi
  • Artefak kuno

3. Era Islam: Pasuruan Sebagai Kota Pelabuhan (Abad 15-17)

Masuknya Islam ke Pasuruan

Islam masuk ke Pasuruan melalui para pedagang dan ulama dari:
  • Gujarat, India
  • Persia (Iran)
  • Arab
  • Malaka
  • Gresik dan Surabaya

Tokoh-Tokoh Penyebar Islam:

A. Sunan Ampel
  • Salah satu Wali Songo
  • Berdakwah di Ampel Denta, Surabaya
  • Pengaruhnya menyebar hingga Pasuruan
B. Raden Patah
  • Pendiri Kesultanan Demak
  • Berperan dalam penyebaran Islam di Jawa Timur
  • Hubungan erat dengan Pasuruan
C. Para Ulama Lokal
  • Kyai-kyai dari Gresik dan Surabaya
  • Pedagang Muslim yang menetap
  • Dai dari Arab dan Persia

Pasuruan di Bawah Kesultanan Demak

Pada awal abad ke-16, Pasuruan masuk dalam wilayah Kesultanan Demak:
Peran Pasuruan:
  • Pelabuhan penting untuk perdagangan rempah-rempah
  • Pusat penyebaran Islam di Jawa Timur
  • Basis kekuatan maritim

Era Kesultanan Mataram

Pada abad ke-17, Pasuruan menjadi bagian dari Kesultanan Mataram:
Pendiri Kota Pasuruan:
  • Sultan Agung dari Mataram
  • Menetapkan Pasuruan sebagai kota penting
  • Membangun infrastruktur dan pemerintahan
Tahun 1686:
  • Pasuruan resmi didirikan sebagai kota
  • Menjadi pusat pemerintahan kabupaten
  • Pelabuhan semakin ramai

4. Masa Kolonial Belanda (Abad 17-20)

Kedatangan VOC

Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) mulai menguasai Pasuruan pada abad ke-17:
Tahun Penting:
  • 1678: VOC mulai menguasai pesisir Jawa Timur
  • 1743: Pasuruan resmi berada di bawah kekuasaan VOC
  • 1800: Setelah VOC bangkrut, Pasuruan berada di bawah pemerintahan Hindia Belanda

Pembangunan Era Kolonial

Infrastruktur:
  • Pelabuhan modern untuk ekspor-impor
  • Jalan raya menghubungkan kota-kota
  • Jembatan dan bangunan publik
  • Pabrik gula dan perkebunan
Administrasi:
  • Pasuruan menjadi kabupaten (regentschap)
  • Dipimpin oleh Bupati yang ditunjuk Belanda
  • Masuk dalam Karesidenan Pasuruan

Ekonomi Kolonial

Komoditas Utama:
  • Tebu: Pabrik gula besar dibangun
  • Kopi: Perkebunan kopi di pegunungan
  • Tembakau: Ekspor ke Eropa
  • Beras: Dari sawah-sawah subur
Dampak pada Rakyat:
  • Sistem tanam paksa (cultuurstelsel)
  • Penderitaan rakyat jelata
  • Perlawanan terhadap Belanda

Arsitektur Kolonial

Bangunan-Bangunan Bersejarah:
  • Gedung Pemerintah bergaya Eropa
  • Gereja-gereja kolonial
  • Rumah-rumah pejabat Belanda
  • Pasar dan bangunan komersial
Ciri Khas:
  • Atap tinggi
  • Jendela besar
  • Dinding tebal
  • Halaman luas

5. Masa Kemerdekaan dan Perkembangan Modern (1945-Sekarang)

Era Kemerdekaan

Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945:
  • Pasuruan menjadi bagian dari Republik Indonesia
  • Rakyat Pasuruan berjuang mempertahankan kemerdekaan
  • Bergabung dalam berbagai laskar perjuangan
Perjuangan Rakyat:
  • Pertempuran melawan Belanda
  • Dukungan untuk tentara Indonesia
  • Gerakan bawah tanah

Perkembangan Administratif

Timeline Penting:
  • 1950: Pasuruan menjadi kotamadya di Provinsi Jawa Timur
  • 1960-an: Pembangunan infrastruktur pasca-kemerdekaan
  • 1980-an: Industrialisasi dimulai
  • 2000-an: Pengembangan kota modern

Pasuruan Modern

Fakta Pasuruan Saat Ini:
Geografis:
  • Luas Wilayah: Sekitar 35,3 km² (kota)
  • Lokasi: Pesisir timur laut Jawa Timur
  • Batas: Selat Madura (utara), Kabupaten Pasuruan (selatan, barat, timur)
  • Iklim: Tropis, panas
Demografi:
  • Penduduk: Sekitar 200.000 jiwa
  • Mayoritas: Suku Jawa, Madura, Tionghoa
  • Agama: Islam (mayoritas), Kristen, Katolik, Buddha, Konghucu
  • Bahasa: Jawa, Indonesia, Madura
Ekonomi:
  • Industri: Makanan, minuman, tekstil
  • Perdagangan: Pasar tradisional dan modern
  • Perikanan: Pelabuhan ikan
  • Pariwisata: Wisata sejarah dan alam
Pendidikan:
  • Sekolah dasar hingga menengah
  • Perguruan tinggi
  • Pesantren tradisional dan modern

6. Peninggalan Sejarah dan Budaya Pasuruan

Situs-Situs Bersejarah:

A. Masjid Jami' Kota Pasuruan

  • Didirikan pada abad ke-18
  • Arsitektur: Perpaduan Jawa, Arab, dan Eropa
  • Masih berfungsi hingga kini
  • Situs bersejarah

B. Klenteng Eng An Kiong

  • Salah satu klenteng tertua di Jawa Timur
  • Didirikan abad ke-18
  • Arsitektur Tionghoa klasik
  • Pusat ibadah umat Buddha dan Konghucu

C. Gereja-gereja Kolonial

  • Gereja Katolik Santo Yusuf
  • Gereja Protestan
  • Arsitektur Eropa klasik
  • Dibangun era kolonial Belanda

D. Bangunan Kolonial

  • Gedung Pemerintah Kota
  • Rumah Dinas Bupati
  • Bangunan-bangunan tua di pusat kota
  • Arsitektur Indische Empire

E. Makam-Makam Keramat

  • Makam para ulama penyebar Islam
  • Makam tokoh-tokoh penting
  • Tempat ziarah

Tradisi dan Budaya:

Tradisi Keagamaan:
  • Sekaten: Peringatan Maulid Nabi
  • Ziarah kubur: Tradisi nyadran
  • Pengajian dan majelis taklim
  • Tabligh akbar
Seni dan Budaya:
  • Wayang kulit: Seni pertunjukan tradisional
  • Reog Ponorogo: Tari tradisional
  • Ludruk: Teater rakyat
  • Gamelan: Musik tradisional Jawa
  • Hadrah: Musik religius
Kuliner Khas:
  • Rujak Cingur: Sayuran dengan cingur (hidung sapi)
  • Rawon: Sup daging hitam khas Jawa Timur
  • Lontong Balap: Lontong dengan taoge dan tahu
  • Semanggi: Sayuran dengan bumbu kacang
  • Tahu Tek: Tahu goreng dengan lontong
  • Es Krim Zangrandi: Es krim legendaris

7. Tokoh-Tokoh Penting dalam Sejarah Pasuruan

Ulama dan Tokoh Agama:

  1. Para Kyai dan Ulama
    • Penyebar Islam di Pasuruan
    • Pendiri pesantren
    • Pemimpin spiritual
  2. Tokoh Masyarakat
    • Pemimpin adat
    • Tokoh budaya

Tokoh Kolonial dan Modern:

  • Para Bupati Pasuruan sejak era Belanda
  • Pejuang kemerdekaan dari Pasuruan
  • Tokoh politik dan pemerintahan
  • Pengusaha dan dermawan

8. Peran Pasuruan dalam Perdagangan dan Pelayaran

Pelabuhan Pasuruan

Sejarah Pelabuhan:
  • Salah satu pelabuhan tertua di Jawa Timur
  • Strategis untuk perdagangan rempah-rempah
  • Hubungan dengan Malaka, Makassar, dan Maluku
Komoditas Perdagangan:
Ekspor:
  • Beras
  • Gula
  • Kopi
  • Tembakau
  • Rempah-rempah
Impor:
  • Kain
  • Keramik
  • Barang-barang mewah

Jaringan Perdagangan

Koneksi Regional:
  • Surabaya
  • Gresik
  • Tuban
  • Banjarmasin
  • Makassar
Koneksi Internasional:
  • Malaka
  • Tiongkok
  • India
  • Arab
  • Eropa

9. Pasuruan di Era Globalisasi: Tantangan dan Peluang

Tantangan:

  1. Industrialisasi: Dampak lingkungan
  2. Urbanisasi: Kepadatan penduduk
  3. Globalisasi: Pergeseran nilai budaya
  4. Kerusakan Situs: Kurangnya pelestarian
  5. Polusi: Dari industri dan transportasi

Peluang:

  1. Wisata Sejarah: Potensi wisata kota tua
  2. Ekonomi Maritim: Pengembangan pelabuhan
  3. Pariwisata Halal: Wisata religi
  4. Industri Kreatif: Berbasis budaya lokal
  5. Teknologi: Digitalisasi UMKM

Upaya Pelestarian:

Pemerintah dan Masyarakat:
  • Restorasi bangunan bersejarah
  • Festival budaya
  • Pendidikan sejarah
  • Dokumentasi arsip
  • Pengembangan museum

10. Keunikan dan Identitas Kota Pasuruan

Kota Multi-Etnis

Pasuruan dikenal sebagai kota yang multi-etnis:
  • Jawa: Mayoritas penduduk
  • Madura: Komunitas besar
  • Tionghoa: Pedagang dan pengusaha
  • Arab: Keturunan Hadramaut
  • Eropa: Warisan kolonial
Akulturasi Budaya:
  • Perpaduan budaya Jawa, Madura, Tionghoa, Arab, dan Eropa
  • Terlihat dalam arsitektur, kuliner, dan tradisi
  • Toleransi dan kerukunan antar umat beragama

Kota Santri

Pasuruan dikenal sebagai kota santri:
  • Banyak pesantren tradisional
  • Ulama dan kyai berpengaruh
  • Pengajian dan kegiatan keagamaan aktif
  • Tradisi Islam kuat

Kesimpulan

Kota Pasuruan memiliki sejarah yang kaya dan beragam:

Warisan Sejarah:

Pelabuhan kuno yang strategis
Pusat perdagangan rempah-rempah
Pusat penyebaran Islam di Jawa Timur
Warisan kolonial Belanda yang masih terjaga
Multi-kulturalisme yang harmonis

Nilai-Nilai Luhur:

Toleransi dalam keberagaman
Semangat perdagangan dan kewirausahaan
Pendidikan Islam melalui pesantren
Akulturasi budaya yang harmonis
Semangat perjuangan kemerdekaan

Pelajaran untuk Generasi Muda:

Sejarah Pasuruan mengajarkan kita tentang:
  1. Pentingnya toleransi dalam masyarakat multi-etnis
  2. Semangat kewirausahaan melalui perdagangan
  3. Pendidikan agama sebagai fondasi moral
  4. Pelestarian warisan budaya dan sejarah
  5. Kerukunan antar umat beragama

Harapan untuk Masa Depan:

Pasuruan harus terus:
  • Melestarikan bangunan bersejarah untuk generasi mendatang
  • Mengembangkan wisata sejarah dan budaya
  • Memperkuat ekonomi maritim dan UMKM
  • Meningkatkan kualitas pendidikan
  • Menjaga kerukunan dan toleransi

Pasuruan bukan sekadar kota modern, tetapi juga kota bersejarah yang telah memberikan kontribusi besar bagi perkembangan peradaban di Jawa Timur. Mari kita lestarikan warisan luhur ini untuk generasi mendatang!

Referensi:
  • Babad Tanah Jawi
  • Arsip Kolonial Belanda
  • Prasasti dan naskah kuno
  • Catatan pedagang asing
  • Penelitian sejarah dan arkeologi
  • Buku "Sejarah Pasuruan" oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
  • Jurnal sejarah Jawa Timur

Tag: #SejarahPasuruan #KotaPasuruan #Pasuruan #JawaTimur #SejarahIndonesia #BudayaNusantara #KotaTua #WisataSejarah #ArsitekturKolonia #WarisanBudaya

Tentang Penulis:
Redaksi Sejarah Ruana Sagita adalah tim penulis yang berdedikasi untuk mendokumentasikan, meneliti, dan menyebarluaskan sejarah dan budaya Nusantara kepada generasi muda. Kami berkomitmen menjaga warisan leluhur melalui tulisan yang akurat dan inspiratif.

Semoga artikel ini bermanfaat dan menambah pengetahuan kita tentang sejarah gemilang Kota Pasuruan! Mari lestarikan warisan budaya Nusantara.