Jumlah Kota di Pulau Sumatera

Mengungkap Asal Mula Mojowarno: Kisah Pembukaan Hutan yang Berubah Menjadi Pusat Peradaban

Sby, Kamis 9 Juli 2026 - Ruana Sagita

Mojowarno, sebuah kecamatan di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, menyimpan cerita sejarah yang menarik tentang transformasi dari kawasan hutan menjadi salah satu pusat peradaban penting di Jawa Timur. Nama yang terdengar unik ini ternyata memiliki makna filosofis yang dalam dan terkait erat dengan kondisi geografis wilayah tersebut di masa lampau.

Filosofi Nama Mojowarno

Nama "Mojowarno" berasal dari bahasa Jawa yang merupakan gabungan dari dua kata: "Maja" dan "Warno" (yang berarti warna). Konon, ketika wilayah ini pertama kali dibuka dan dihuni, para perintis menemukan banyak pohon Maja yang tumbuh subur dengan berbagai variasi bentuk dan warna. Pohon Maja sendiri memiliki nilai historis yang kuat di tanah Jawa, mengingat keterkaitannya dengan kerajaan Majapahit yang pernah berjaya di Nusantara.
Keberadaan pohon-pohon Maja ini bukan kebetulan, mengingat lokasi Mojowarno yang tidak terlalu jauh dari bekas pusat kerajaan Majapahit di Trowulan. Hal ini menunjukkan bahwa wilayah ini pernah menjadi bagian dari kawasan yang penting pada masa itu.

Tokoh Pembuka Permukiman

Sejarah pembukaan Desa Mojowarno tidak lepas dari peran seorang tokoh penting bernama Kiai Abisai Ditotruno. Sebelum memeluk agama Kristen dan dibaptis, ia dikenal dengan nama Ditotruno. Bersama dengan rekannya, Kiai Singotruno, mereka merupakan tokoh-tokoh kepercayaan dari Coenrad Laurens Coolen, seorang peranakan Rusia-Jawa yang pernah bekerja sebagai pengawas kehutanan pada masa pemerintahan kolonial Belanda.
Coolen sendiri telah lebih dahulu membuka permukiman di daerah Ngoro, yang terletak di sebelah selatan Jombang. Di sana, ia aktif mengajarkan ajaran Kristen kepada masyarakat Jawa. Kiai Abisai Ditotruno kemudian mendapat kepercayaan untuk membuka kawasan hutan baru yang terletak sekitar 10 kilometer di utara Ngoro, yang saat itu masih berupa hutan belantara dan dianggap angker oleh masyarakat setempat.

Perjuangan Membuka Hutan Belantara

Dengan kerja keras dan ketekunan yang luar biasa, Kiai Abisai berhasil membuka hutan yang saat itu dikenal dengan nama Dagangan. Proses pembukaan hutan ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Dibutuhkan keberanian dan keyakinan yang kuat untuk mengubah kawasan hutan yang masih perawan menjadi permukiman yang layak huni.
Usaha keras Kiai Abisai tidak sia-sia. Secara bertahap, banyak orang yang tertarik untuk menetap di wilayah baru ini. Mereka datang dari berbagai daerah, membawa serta harapan baru untuk memulai kehidupan yang lebih baik. Semakin lama, permukiman ini semakin berkembang dan ramai, membentuk sebuah komunitas yang solid.
Hingga kini, makam Kiai Abisai yang oleh masyarakat sekitar lebih dikenal dengan sebutan Mbah Abisai atau Mbah Sai masih dapat ditemukan di salah satu sudut Mojowarno, tepatnya di sebelah utara pasar Mojowarno. Sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya, salah satu jalan di daerah tersebut dinamakan Jalan Abisai.

Pusat Penyebaran Agama Kristen Tertua di Jawa

Mojowarno memiliki tempat istimewa dalam sejarah penyebaran agama Kristen di Pulau Jawa. Pada tanggal 3 Maret 1881, berdirilah Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mojowarno, yang hingga kini tercatat sebagai salah satu gereja tertua di Jawa Timur.
Keberadaan gereja ini tidak terlepas dari visi dan misi Coenrad Laurens Coolen serta para pengikutnya yang dengan gigih mengajarkan ajaran Kristen kepada masyarakat Jawa. Mereka berupaya menyelaraskan ajaran Kristen dengan budaya Jawa, sehingga pesan yang disampaikan dapat lebih mudah diterima oleh masyarakat setempat.
Hingga saat ini, kecamatan Mojowarno dikenal memiliki populasi umat Kristen terbesar di Kabupaten Jombang, yang merupakan warisan dari sejarah panjang penyebaran agama di wilayah ini.

Rumah Sakit Kristen: Warisan Pelayanan Kesehatan

Selain gereja, Mojowarno juga memiliki sejarah penting dalam bidang kesehatan. Pada tanggal 6 Juni 1894, didirikanlah Rumah Sakit Kristen Mojowarno, yang pada masa kolonial Belanda dikenal dengan nama "Zendings Ziekenhuis te Mojowarno".
Rumah sakit ini memiliki peran strategis tidak hanya dalam pelayanan kesehatan masyarakat, tetapi juga dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pada masa perang kemerdekaan tahun 1948, bangunan rumah sakit ini dihancurkan dengan taktik bumi hangus karena digunakan sebagai Rumah Sakit Pertahanan untuk wilayah Surabaya Selatan.
Namun, semangat masyarakat Mojowarno tidak pernah padam. Pada tahun 1949, segera setelah situasi memungkinkan, masyarakat Kristen di daerah Mojowarno bergotong royong membangun kembali rumah sakit ini. Hingga kini, Rumah Sakit Kristen Mojowarno masih terus beroperasi dan melayani masyarakat, menjadi saksi ketekunan dan dedikasi para pendahulu.

Warisan Budaya yang Tetap Lestari

Mojowarno tidak hanya kaya akan sejarah keagamaan, tetapi juga mempertahankan tradisi budaya yang warisan leluhur. Salah satu tradisi yang masih dilestarikan hingga kini adalah Riyaya Undhuh-Undhuh, sebuah upacara syukur yang dilakukan oleh para petani sebagai wujud rasa terima kasih kepada Tuhan atas hasil panen dan limpahan rezeki yang diberikan.
Tradisi ini biasanya dilakukan setelah musim panen dan melibatkan seluruh masyarakat. Berbagai hasil bumi dipamerkan dan kemudian didoakan bersama sebagai bentuk rasa syukur. Tradisi ini menunjukkan bagaimana masyarakat Mojowarno berhasil memadukan nilai-nilai keagamaan dengan kearifan lokal yang telah ada sejak lama.

Mojowarno di Masa Kini

Kini, Mojowarno telah bertransformasi menjadi sebuah kecamatan yang berkembang pesat di Kabupaten Jombang. Dengan luas wilayah mencapai 61,92 km², kecamatan ini terdiri dari 19 desa yang terbagi menjadi 72 dusun.
Meskipun telah mengalami perkembangan yang signifikan, Mojowarno tetap mempertahankan karakter sejarahnya. Bangunan-bangunan bersejarah seperti GKJW Mojowarno dan Rumah Sakit Kristen Mojowarno masih berdiri kokoh, menjadi monumen hidup yang mengingatkan kita pada perjalanan panjang wilayah ini.

Pelajaran dari Sejarah Mojowarno

Sejarah Mojowarno mengajarkan kita beberapa nilai penting: pertama, tentang semangat perjuangan Kiai Abisai Ditotruno dan para perintis lainnya yang tidak kenal lelah membuka hutan belantara menjadi permukiman yang sejahtera. Kedua, tentang toleransi dan kerukunan, di mana Mojowarno menjadi contoh bagaimana berbagai elemen masyarakat dapat hidup berdampingan secara harmonis. Ketiga, tentang ketekunan dan visi jangka panjang, seperti yang ditunjukkan oleh para pendiri gereja dan rumah sakit yang warisannya masih dapat dinikmati hingga hari ini.

Penutup

Dari sebuah hutan angker yang dibuka oleh Kiai Abisai Ditotruno, Mojowarno telah bertransformasi menjadi pusat peradaban yang penting di Jawa Timur. Kisah ini bukan sekadar catatan sejarah, tetapi juga inspirasi bagi generasi sekarang dan mendatang tentang apa yang dapat dicapai dengan kerja keras, keyakinan, dan visi yang jelas.
Warisan sejarah dan budaya Mojowarno adalah aset berharga yang harus kita jaga dan lestarikan. Dengan memahami asal mula dan perjalanan sejarah Mojowarno, kita dapat lebih menghargai proses yang telah dilalui dan berkomitmen untuk melanjutkan estafet pembangunan dengan tetap mempertahankan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh para pendahulu.

Referensi:
  • Arsip Sejarah GKJW Mojowarno
  • Dokumen Sejarah Kabupaten Jombang
  • Tradisi Lisan Masyarakat Mojowarno